Showing posts with label uneg-uneg. Show all posts
Showing posts with label uneg-uneg. Show all posts

Friday, May 3, 2013

Susahnya Merubah Mental Karyawan (Lewat Buku)

Saat ini saya sedang mencoba mengkhatamkan beberapa buku yang sudah "kadung" terbeli. Habiskan Saja Gajimu oleh Ahmad Ghozali, Cashflow Quadrant (english version) oleh Robert Kiyosaki, 10 Jurus terlarang oleh Ippho Santosa, Status Karyawan Sukses Jadi Juragan oleh Amir Hamzah. Semua buku tersebut berkenaan dengan pengelolaan keuangan dan bisnis.

Buku yang pertama, Habiskan Saja Gajimu oleh Ahmad Ghozali, saya lahap duluan karena bukunya relatif tipis. Disamping itu saya sendiri mengagumi Pak Ahmad Ghozali yang selama ini dikenal sebagai financial advisor spesialis syariah. Bukunya simple dan mudah dipahami. Pada intinya, gaji memang harus dihabiskan, bukan disisakan (untuk ditabung). Bagaimana kita mengelola gaji dan menghabiskannya berdasarkan prioritas. Prioritas pertama adalah pengeluaran sosial (zakat & infaq), kemudian membayar utang, lalu menabung, terus sisanya boleh dihabiskan (konsumsi). Bagi saya hal itu make sense...


Buku yang sekarang sedang saya baca adalah Cashflow Quadrant (english version) oleh Robert Kiyosaki. Bisa dibilang buku ini adalah sekuel dari buku best seller, Rich Dad Poor Dad. Mirip-mirip dengan buku "kakak"nya itu (yang sudah saya punya dari jaman kuliah), buku Cashflow Quadrant ini menjelaskan tentang tipe-tipe orang dalam memahami uang, apakah dia seorang Employee, Self-Employee, Bussiness Owner atau Investor. Pada intinya buku ini mempengaruhi pembaca agar mulai berani berpindah kuadran, dari kuadran kiri (E atau S), ke kuadran kanan (B atau S). Yang membuat saya pusing, bahwa buku ini mengajarkan hal-hal yang menurut saya tidak lazim, yang maksudnya merubah mental karyawan menjadi mental pengusaha. Buku ini mengajarkan kita menjadi kapitalis, memanfaatkan duit orang lain untuk menambah pundi-pundi kekayaan kita (secara legal). Memang dari perspektif bisnis itu bagus, tapi hati kecil saya koq masih belum bisa menerimanya.

Sedangkan dua buku yang lain, yaitu 10 Jurus terlarang oleh Ippho Santosa, Status Karyawan Sukses Jadi Juragan oleh Amir Hamzah, belum sempat saya baca. Tapi saya sudah bisa menebak bahwa buku Ippho yang satu ini ga jauh-jauh dari buku 7 Keajaiban Rezeki yang sudah saya punya sebelumnya. Gaya Ippho hampir mirip dengan Kiyosaki atau Tung Desem Waringin, bahwa berbisnis harusnya menggunakan cara yang tidak biasa. Namun bedanya, Ippho membawakannya dengan menyisipkan ajaran dan norma Islam di dalamnya. Bagi saya, Ippho belum gila-gila banget...

Sedangkan buku Amir Hamzah, sekilas sih masuk akal. Saya scanning dengan cepat, di dalam buku ini banyak diajarkan cara-cara konkret untuk menjalankan bisnis tanpa mengganggu status kita sebagai karyawan. Amir Hamzah sendiri sekarang sukses menjadi juragan buah-buahan saat masih menjadi karyawan BUMN. Sepertinya buku ini cocok buat saya....

Thursday, May 2, 2013

Kebanjiran Informasi...

Di era globalisasi ini, informasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seseorang. Berita, baik dari media cetak (yang sudah mulai tergusur) dan dari media elektronik, seakan membanjiri hidup kita setiap harinya. Tanpa terasa kitapun menjadi korban "kecanduan" informasi, yang tidak bisa hidup tanpa informasi sedetikpun.

Lihat saja berita TV belakangan ini, kasus politik, korupsi, sampai perdukunan, bahkan hal-hal yang sepele diangkat menjadi berita. Saya berpikir apa tidak ada berita lain yang lebih membangun masyarakat ke arah yang lebih positif. Jaman Pak Harto dulu ada berita kelompencapir, yang banyak mengupas kesuksesan pertanian dan pembangunan (walaupun semu) sehingga khalayak lebih berpikir positif untuk bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya.

Internet, hal yang dapat mengkoneksikan kita dengan siapa saja dan dimana saja, sudah ada dalam genggaman. Cukup dengan HP murahan, kita bisa browsing apa saja. Bangun tidur kelewat ga nonton bola, tinggal buka internet, udah muncul skornya. Facebook dan twitter bisa menghubungkan kita dengan kawan lama, serta mengetahui apa yang sedang dia, atau presidenpun, yang sedang kerjakan.

Belum lagi di bidang ekonomi, harga-harga barang bisa naik turun karena informasi yang belum pasti kebenarannya. Sedikit saja isu terpercik, semua orang terpengaruh. Beberapa minggu lalu, harga emas yang biasanya bergerak naik dengan lambat, tiba-tiba anjlok gara-gara isu-isu tertentu.

Berkaitan dengan "kebanjiran" informasi itu, kadang saya merindukan hidup di desa yang tidak ada listrik, TV ataupun sinyal HP. Sepertinya damaiiii gitu. Asal bisa makan dengan hasil bumi yang ada, bisa cukup membuat kenyang tanpa harus memikirkan inflasi. Dan bisa tidur pulas sampai bangun pagi esoknya, tanpa harus memikirkan utang...

Tuesday, May 8, 2012

Mendikte Gaya Penulisan Seseorang



Sebagai seseorang yang bukan berlatar belakang pendidikan sastra, saya tidak tahu menahu tentang bab tulis-menulis. Bagi saya, menulis itu mengalir begitu saja seperti air sungai yang mengalir terus menerus mencari titik terendah. Terlebih ketika jaman SMA, satu-satunya mata pelajaran yang pernah dapat nilai enam di raport adalah Bahasa Indonesia. Boleh dibilang malu-maluin (apalagi pelajaran Bahasa Inggris-nya dapat nilai sembilan) tapi apalah hendak dikata, memang belajar bahasa dan sastra itu memang sulit.

Beberapa bulan yang lain, di sebuah mailing list yang saya ikuti, terdapat lomba menulis. Pada awalnya saya tertarik dan saya sempat mendaftar ke panitianya. Saya berpikir, toh temanya juga gampang yaitu pengalaman berada di negeri orang. Setelah mendaftar, barulah saya membaca persyaratan perlombaannya. Ternyata syaratnya sangat sulit. Bukan hanya persyaratan teknis, seperti misalnya tulisan harus berapa halaman, font berapa, margin berapa, tapi juga persyaratan non teknis yang berkaitan dengan gaya penulisan.

Yang saya maksud dengan persyaratan gaya penulisan adalah panitia meminta tulisan yang diikutkan perlombaan tersebut haruslah tulisan yang bermajas-majas, meletup-letup, kalau ada sedihnya ya harus ditulis sesedih-sedihnya (sehingga pembacanya ikut mbrebes mili), kalau ada semangatnya harus menggambarkan semangat juang 45. Sehingga terkesan panitia mendikte gaya penulisan untuk diikutsertakan dalam lomba menulis itu.

Buat saya yang terbiasa menulis ala Blogging seperti ini tentu persyaratan-persyaratan tersebut sangatlah merepotkan. Akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri dari lomba tersebut. Ya memang nasib saya, untuk tetap menulis di blog, walaupun harus tanpa ada yang baca sekalipun....

Gambar diambil dari sini http://mikroskoppenulis.blogspot.com/2010_05_01_archive.html lewat pencarian Google Gambar

Tanpa tempat dan tanggal
Sasongko Adjie