Friday, August 1, 2014

Berlebaran di Offshore

Sebuah tanggapan dari artikel ini dan itu.

Saya tertarik untuk membaca dua artikel di atas, karena merasa senasib. Yaitu dapat jatah berlebaran di offshore platform / anjungan lepas pantai. Berlebaran memang suatu momen yang sangat dinantikan. Waktu berkumpul bersama keluarga, kesempatan bertemu teman-teman sepermainan di masa kecil yang pada mudik, aneka masakan dan makanan khas buatan ibu, menjadikan momen lebaran menjadi begitu spesial. Namun apalah daya, karena tuntutan profesi maka saya harus berlebaran ketika sedang menjalankan tugas (yang saya sebut) sebagai pengawal kemandirian energi nasional (national energy independence custodian

Sholat Ied di atas helideck
Sebetulnya secara mental, saya sudah siap berlebaran di offshore sejak beberapa bulan yang lalu. Karena jadwal kerja sudah diissue sehingga semua pekerja sudah tau grup mana yang akan mendapatkan "jackpot" untuk berlebaran di offshore. Keluarga sudah paham dan terkondisikan bahwa saya akan berangkat kerja 3 hari sebelum Idul Fitri, sehingga saya sudah mudik sebelum arus mudik pantura ramai.
Yang spesial dari Idul Fitri tahun ini, manajemen perusahaan mendatangkan ustadz dari Hidayatullah Dakwah Center, Balikpapan. Dan karena beliau berangkat bareng saya, maka saya diserahi tugas untuk meng-guide beliau di Airport, sampai berangkat ke platform menggunakan helicopter.
Pada malam takbiran, walaupun belum ada pengumuman sidang itsbat dari pemerintah, nada-nadanya 1 Syawal 1435H akan masuk pada hari Senin, 28 Agustus 2014. Kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya di helideck, mulai dari karpet, sound system, dsb. Suasana takbiran mengharu biru, syahdu dan khusuk, walaupun hanya bertahan satu jam saja, dikarenakan angin Selat Makassar yang mengganas.


Khutbah Ied

Paginya, sudah direncanakan bahwa kondisi plant fakultatif, alias tidak ada pekerjaan yang major. Cukup sekedar menjaga produksi gas alam sesuai target / nominasi. Setelah matahari sepenggalah naik, satu demi satu para muslimin berkumpul di helideck untuk melaksanakan sholat Ied. Bahkan teman-teman non-muslim turut membantu mengabadikan dokumentasi momen istimewa ini. Setelah sholat Ied dan khutbahnya selesai, dilanjutkan dengan makan kupat opor sambel goreng bersama, lengkap dengan nastar dan kacang metenya.


Yang terakhir, dengan setulus hati ( walaupun terkesan normatif ) saya haturkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435H. Taqobalallahu minna wa minkun, wa ja'alnallohu minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan kita mampu mempertahankan semangat ibadah Ramadhan di bulan-bulan berikutnya.

Ruby, 01 Agustus 2014

Monday, May 6, 2013

Menikmati Keindahan Teluk Balikpapan

Balikpapan Bay
 Suatu waktu saya berkesempatan mengunjungi dan "muter-muter" kota Balikpapan. Dan akhirnya driver kami memilihkan suatu tempat yang cocok untuk menikmati keindahan teluk Balikpapan sekaligus matahari sorenya.

Tepatnya di pantai Monumen Perjuangan Rakyat Kaltim (Jl. Sudirman, Balikpapan), saya dan teman-teman singgah sebentar, sambil memesan kudapan mie ayam dan es kelapa muda serta ditemani oleh sepoi-sepoi lembut angin laut.



Untuk ukuran public space di Indonesia, tempat ini relatif bersih. Pantainya bisa buat untuk mandi dan berenang. Ada toilet dan kamar mandi yang (sekali lagi) relatif bersih. Selain pantai, ada juga Monumen yang dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Kaltim melawan penjajahan. Bisa dibilang berekreasi sambil wisata sejarah.

Monumen Perjuangan Rakyat Kaltim

Taman Bermain Monpera
Selain kawasan pantai yang berpasir putih, ada pula kawasan berumput yang bisa digunakan untuk bermain anak-anak. Dilengkapi dengan mini panggung yang langsung menghadap ke laut luas.


Selain Monpera, masih banyak tempat wisata lain di Balikpapan yang bisa dieksplor. Saya sudah sempat mengunjungi pantai Manggar, pantai Lamaru, Penangkaran buaya Teritip, Penangkaran beruang madu, dan tempat beli cinderamata "Kebun Sayur".


"The world is a book and those who do not travel read only the cover"

Saturday, May 4, 2013

Terdampar di Kalimantan




Kisah hidup saya menuliskan bahwa saya harus "terdampar" di suatu pulau dimana saya dilahirkan.

Saya meninggalkan pulau ini dua tahun setelah saya dilahirkan ke dunia untuk mengikuti pekerjaan orang tua saya ke tanah impian, Jawa. Sehingga sampai saat ini di setiap biodata saya, selalu tertulis "Tapin" sebagai tempat lahir saya dan mayoritas kawan-kawan saya tidak dapat menunjukkan dimana Tapin berada di peta (atau mungkin baru pertama kali mendengarnya).

 Kabupaten Tapin berada di provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 2 jam perjalanan dari Banjarmasin. Di sana nenek dan beberapa paman saya masih tinggal. Ibu saya, yang memang asli sana, selalu menyempatkan setidaknya setahun sekali untuk menengok nenek. Terakhir kali saya ke sana (tahun 2010) banyak hal yang membuat saya tercengang. Terjadi kesenjangan sosial yang cukup lebar antara si kaya dan si miskin. Itu tidak lain karena banyak OKB (Orang Kaya Baru) yang mendapat berkah dari "harta" di bawah bumi, apalagi kalau bukan batubara.

Dan kini saya terdampar di sisi lain dari pulau Kalimantan, yaitu Handil. Berada di sekitar 2 jam timur laut Balikpapan. Kota kecil yang dihidupi oleh industri, terutama oleh Total E&P Indonesie. Namun, saya tidak bekerja di Total. Hanya saja platform (tempat kerja) saya dibangun di sini, di pinggir pantai di belakang kompleks Total berada.

Hanya sekitar 10 bulan saya berada di Handil. Karena selanjutnya saya akan bekerja di Offshore, tepatnya di Selat Sebuku, dekat Kotabaru - Kalsel. Jadwal pekerjaan 14/14 (14 hari masuk kerja/14 hari libur) itu yang menjadi pertimbangan saya memilih pekerjaan ini. Sehingga walaupun saya bekerja, saya mempunyai waktu luang bersama keluarga, walaupun tidak setiap hari.

Kedepannya, saya masih punya banyak impian. Namun dalam jangka pendek, mungkin saya akan memilih untuk tinggal di Indonesia terlebih dahulu. Dapat mendampingi orang tua yang sebelumnya saya tinggal lama sewaktu saya berada di Qatar. Istri saya juga masih punya obsesi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan saya juga masih belajar untuk mengembangkan suatu usaha/bisnis, yang saat ini masih belum ada satu idepun dalam pikiran saya (tapi saya yakin itu akan ada)...

"Build your own dreams, or someone else will hire you to build theirs". 
 

Friday, May 3, 2013

Susahnya Merubah Mental Karyawan (Lewat Buku)

Saat ini saya sedang mencoba mengkhatamkan beberapa buku yang sudah "kadung" terbeli. Habiskan Saja Gajimu oleh Ahmad Ghozali, Cashflow Quadrant (english version) oleh Robert Kiyosaki, 10 Jurus terlarang oleh Ippho Santosa, Status Karyawan Sukses Jadi Juragan oleh Amir Hamzah. Semua buku tersebut berkenaan dengan pengelolaan keuangan dan bisnis.

Buku yang pertama, Habiskan Saja Gajimu oleh Ahmad Ghozali, saya lahap duluan karena bukunya relatif tipis. Disamping itu saya sendiri mengagumi Pak Ahmad Ghozali yang selama ini dikenal sebagai financial advisor spesialis syariah. Bukunya simple dan mudah dipahami. Pada intinya, gaji memang harus dihabiskan, bukan disisakan (untuk ditabung). Bagaimana kita mengelola gaji dan menghabiskannya berdasarkan prioritas. Prioritas pertama adalah pengeluaran sosial (zakat & infaq), kemudian membayar utang, lalu menabung, terus sisanya boleh dihabiskan (konsumsi). Bagi saya hal itu make sense...


Buku yang sekarang sedang saya baca adalah Cashflow Quadrant (english version) oleh Robert Kiyosaki. Bisa dibilang buku ini adalah sekuel dari buku best seller, Rich Dad Poor Dad. Mirip-mirip dengan buku "kakak"nya itu (yang sudah saya punya dari jaman kuliah), buku Cashflow Quadrant ini menjelaskan tentang tipe-tipe orang dalam memahami uang, apakah dia seorang Employee, Self-Employee, Bussiness Owner atau Investor. Pada intinya buku ini mempengaruhi pembaca agar mulai berani berpindah kuadran, dari kuadran kiri (E atau S), ke kuadran kanan (B atau S). Yang membuat saya pusing, bahwa buku ini mengajarkan hal-hal yang menurut saya tidak lazim, yang maksudnya merubah mental karyawan menjadi mental pengusaha. Buku ini mengajarkan kita menjadi kapitalis, memanfaatkan duit orang lain untuk menambah pundi-pundi kekayaan kita (secara legal). Memang dari perspektif bisnis itu bagus, tapi hati kecil saya koq masih belum bisa menerimanya.

Sedangkan dua buku yang lain, yaitu 10 Jurus terlarang oleh Ippho Santosa, Status Karyawan Sukses Jadi Juragan oleh Amir Hamzah, belum sempat saya baca. Tapi saya sudah bisa menebak bahwa buku Ippho yang satu ini ga jauh-jauh dari buku 7 Keajaiban Rezeki yang sudah saya punya sebelumnya. Gaya Ippho hampir mirip dengan Kiyosaki atau Tung Desem Waringin, bahwa berbisnis harusnya menggunakan cara yang tidak biasa. Namun bedanya, Ippho membawakannya dengan menyisipkan ajaran dan norma Islam di dalamnya. Bagi saya, Ippho belum gila-gila banget...

Sedangkan buku Amir Hamzah, sekilas sih masuk akal. Saya scanning dengan cepat, di dalam buku ini banyak diajarkan cara-cara konkret untuk menjalankan bisnis tanpa mengganggu status kita sebagai karyawan. Amir Hamzah sendiri sekarang sukses menjadi juragan buah-buahan saat masih menjadi karyawan BUMN. Sepertinya buku ini cocok buat saya....

Thursday, May 2, 2013

Kebanjiran Informasi...

Di era globalisasi ini, informasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seseorang. Berita, baik dari media cetak (yang sudah mulai tergusur) dan dari media elektronik, seakan membanjiri hidup kita setiap harinya. Tanpa terasa kitapun menjadi korban "kecanduan" informasi, yang tidak bisa hidup tanpa informasi sedetikpun.

Lihat saja berita TV belakangan ini, kasus politik, korupsi, sampai perdukunan, bahkan hal-hal yang sepele diangkat menjadi berita. Saya berpikir apa tidak ada berita lain yang lebih membangun masyarakat ke arah yang lebih positif. Jaman Pak Harto dulu ada berita kelompencapir, yang banyak mengupas kesuksesan pertanian dan pembangunan (walaupun semu) sehingga khalayak lebih berpikir positif untuk bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya.

Internet, hal yang dapat mengkoneksikan kita dengan siapa saja dan dimana saja, sudah ada dalam genggaman. Cukup dengan HP murahan, kita bisa browsing apa saja. Bangun tidur kelewat ga nonton bola, tinggal buka internet, udah muncul skornya. Facebook dan twitter bisa menghubungkan kita dengan kawan lama, serta mengetahui apa yang sedang dia, atau presidenpun, yang sedang kerjakan.

Belum lagi di bidang ekonomi, harga-harga barang bisa naik turun karena informasi yang belum pasti kebenarannya. Sedikit saja isu terpercik, semua orang terpengaruh. Beberapa minggu lalu, harga emas yang biasanya bergerak naik dengan lambat, tiba-tiba anjlok gara-gara isu-isu tertentu.

Berkaitan dengan "kebanjiran" informasi itu, kadang saya merindukan hidup di desa yang tidak ada listrik, TV ataupun sinyal HP. Sepertinya damaiiii gitu. Asal bisa makan dengan hasil bumi yang ada, bisa cukup membuat kenyang tanpa harus memikirkan inflasi. Dan bisa tidur pulas sampai bangun pagi esoknya, tanpa harus memikirkan utang...

Wednesday, March 13, 2013

Harits, welcome to real world...



Alhamdulillah telah lahir anak ke-3 kami pada tanggal 4 Maret di JIH, laki-laki, dengan berat 3,5 kg dan panjang 48 cm. Anak kami yang ketiga ini kami beri nama Harits Abdul Aziz.

Kelahiran Harits memberikan banyak arti bagi keluarga kami. Semenjak hamil istri saya, kami banyak mengalami beberapa momen penting, terutama kepindahan keluarga kami ke tanah air tercinta. Ditambah lagi pekerjaan saya yang baru menuntut saya untuk sering meninggalkan keluarga. Sehingga praktis waktu saya menjadi lebih kurang untuk mendampingi istri saya yang sedang hamil.

Hari-hari menjelang kelahiran, saya masih mendapat tugas dari kantor untuk menjalani training di Bogor. Sampai dua hari menjelang kelahiran, barulah saya bisa pulang ke Jogja. Lalu dua hari setelah kelahiran, lagi-lagi saya harus meninggalkan keluarga ke Balikpapan selama seminggu. Setelah itu barulah saya bisa berkumpul bersama.

Pengalaman kami selama melahirkan Harits di JIH (Jogja International Hospital) cukup memuaskan. Walaupun awalnya sempat masuk ke Kelas 2 karena keterbatasan kamar, keesokkan harinya kami mendapatkan single room, sehingga privasi bisa terjaga. Terlebih lagi bantuan dokter SOG, dokter anak, dan para bidan/perawat yang sangat ramah dan friendly, sehingga kami (terutama istri saya) merasa nyaman di sana. Dan Alhamdulillah, kakek-nenek pun bisa berkumpul menemani dan mendoakan kelancaran kelahiran Harits.

Sekali lagi, kami sangat berterimakasih pada pihak-pihak yang sangat membantu kelahiran anak kami, baik dari pihak keluarga, tetangga maupun dari RS. Semoga Allah yang membalas kebaikan anda semua.

Sunday, December 23, 2012

Jalan-Jalan ke Tenggarong

Pada bulan Oktober yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Tenggarong, ibu kota Kutai Kertanegara. Dalam perjalanan yang singkat (hanya sekitar 2 jam), saya dan teman-teman muter-muter kota sambil berwisata kuliner, dan juga mengunjungi Museum Mulawarman. Ada website yang bagus untuk menunjukkan bagian dalam museum disini .

Museum Mulawarman tampak depan

Halaman depan Museum

Kutai sendiri sejarahnya adalah kerajaan hindu yang tertua di nusantara. Namun lama kelamaan, kerajaan tersebut beralih menjadi Kesultanan Islam. Beberapa pusaka dan benda-benda peninggalan sejarah Kesultanan Kutai, dipajang di museum ini.

Koleksi pusaka kerajaan
Patung Lembuswana, simbol Kerajaan Kutai

Koleksi Samurai

Koleksi Keris

Diorama penambangan emas tradisional

Koleksi guci dan tembikar

Wayang dan gamelan juga ada

Di tempat lain, saya mengunjungi (reruntuhan) Jembatan Kutai Kertanegara. Awalnya jembatan gantung ini mirip Golden Gate Brigde di San Fransisco. But tragically, jembatan itu rubuh tahun lalu dan menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit.

Reruntuhan Jembatan Kutai Kartanegara

Pulau Kumala di tengah Sungai Mahakam
Dengan terputusnya transportasi akibat rubuhnya jembatan yang membelah sungai Mahakam ini, muncullah mode transportasi baru yang disebut "klotok" yang menghubungkan daerah seberang sungai. Sebuah perahu mini ferry, yang menyeberangkan 3-4 buah mobil sekali jalan. Nah, di tengah-tengah sungai Mahakam, terdapat pulau kecil bernama Pulau Kumala. Di pulau ini dibuat sebuah arena wisata yang menarik, lengkap dengan menara pandang. Sayangnya saya tidak kesana karena keterbatasan waktu.

Disambung lain waktu lagi....

Saturday, December 22, 2012

Menempuh "hidup baru"

Jangan salah sangka dulu, saya tidak kawin lagi...

Kami sekeluarga telah memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia. Memang berat rasanya harus meninggalkan Qatar, dengan segala kenyamanannya. Dan kami harus memulai hidup baru di Indonesia, dengan suasana dan paradigma baru.

Walaupun sebetulnya rencana resignation saya dari pekerjaan di Qatar sudah saya pikirkan dari awal tahun 2012, namun sampai bulan Mei, belum ada satupun CV saya yang nyantol. Sampai pada suatu saat ketika saya mendapat tawaran dari kakak kelas saya di D3 Tekim Undip, bahwa salah satu koleganya di sebuah perusahaan oil & gas, membutuhkan operator yang mempunyai pengalaman dengan gas turbin. Awalnya saya kurang pede, karena saya sendiri belum memiliki pengalaman itu. Tapi berbekal tekad dan semangat untuk mewujudkan resolusi 2012, akhirnya saya melamar pekerjaan itu dan berharap dapat panggilan wawancara.

Akhirnya beberapa hari kemudian, saya mendapat email dari agen perusahaan tersebut. Dalam email tersebut disebutkan kapan saya harus interview dan sekaligus offering dari mereka. Saya sendiri merasa kaget, karena biasanya perusahaan memberikan offer gaji setelah deal dalam interview. Setelah diskusi tentang jadwal interview via email dan telepon, akhirnya disepakatilah pada suatu hari di bulan Juni.

Singkat waktu, setelah wawancara selesai, mereka setuju untuk meng-hire saya. Hanya saja, saya meminta notice period 2 bulan untuk menyelesaikan proses pengunduran diri dari employer saya di Qatar. Sebuah proses yang lama dan butuh perjuangan yang cukup berat karena ternyata untuk resign-pun saya harus menjalani prosedur yang sangat ribet. Cukuplah bagi saya untuk merenungi pepatah "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian".

Tanggal 12 September 2012 pukul 8 malam, kami sekeluarga meninggalkan Qatar. Dengan diantar Nissan Pathfinder sahabat saya SBA ke airport, saya merasakan perasaan yang belum penah saya rasakan sebelumnya. Senang sekaligus sedih. Senang karena cita-cita saya untuk kembali ke tanah air, akhirnya terwujud. Sedih karena harus meninggalkan kenangan yang banyak tergores di Qatar, bersama teman dan kerabat (terutama IndOryx Family).

Bahkan saya tidak berani menoleh ke belakang....

Beberapa foto ini saya ambil pada hari-hari terakhir saya di Qatar

Teman satu grup di perusahaan lama saya, multinationality

Istri saya bersama sahabat-sahabatnya

Foto-foto yang lain menyusul...

Updated on 12 January 2013

bersama teman2, Pak SBA, Pras, dan pak Acep

bersama Mas Rendra Al Jazeera

bersama gurunda tercinta, Ust. Sudirman dan Ust. Amir Hasan

istri dan teman-temannya

Sunday, September 9, 2012

Qatar Memories

The Gate at Al Rumailla Park
Sea Line - Mesaieed

Amphiteatre at Katara

Masjid Sh. Muhammad ibn Abdul Wahhab

MIA park with West Bay background

Museum of Islamic Art

Film City, in the middle of desert

Monday, August 20, 2012

Selamat Idul Fitri 1433H

Image: Sh. Imam Mohammad bin Abdul Wahhab Mosque (Masjid Jami' Daulah) - Doha, Qatar


Saya dan keluarga turut mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1433H
Taqabbalallahu minna wa minkum, wa shiyamana wa shiyamakum
Wa ja'alnallahu min al-aidin wa al-faizin
Kullu amm wa antum bikhoir

"Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan dan kekhilafan,..."

Tuesday, May 8, 2012

Mendikte Gaya Penulisan Seseorang



Sebagai seseorang yang bukan berlatar belakang pendidikan sastra, saya tidak tahu menahu tentang bab tulis-menulis. Bagi saya, menulis itu mengalir begitu saja seperti air sungai yang mengalir terus menerus mencari titik terendah. Terlebih ketika jaman SMA, satu-satunya mata pelajaran yang pernah dapat nilai enam di raport adalah Bahasa Indonesia. Boleh dibilang malu-maluin (apalagi pelajaran Bahasa Inggris-nya dapat nilai sembilan) tapi apalah hendak dikata, memang belajar bahasa dan sastra itu memang sulit.

Beberapa bulan yang lain, di sebuah mailing list yang saya ikuti, terdapat lomba menulis. Pada awalnya saya tertarik dan saya sempat mendaftar ke panitianya. Saya berpikir, toh temanya juga gampang yaitu pengalaman berada di negeri orang. Setelah mendaftar, barulah saya membaca persyaratan perlombaannya. Ternyata syaratnya sangat sulit. Bukan hanya persyaratan teknis, seperti misalnya tulisan harus berapa halaman, font berapa, margin berapa, tapi juga persyaratan non teknis yang berkaitan dengan gaya penulisan.

Yang saya maksud dengan persyaratan gaya penulisan adalah panitia meminta tulisan yang diikutkan perlombaan tersebut haruslah tulisan yang bermajas-majas, meletup-letup, kalau ada sedihnya ya harus ditulis sesedih-sedihnya (sehingga pembacanya ikut mbrebes mili), kalau ada semangatnya harus menggambarkan semangat juang 45. Sehingga terkesan panitia mendikte gaya penulisan untuk diikutsertakan dalam lomba menulis itu.

Buat saya yang terbiasa menulis ala Blogging seperti ini tentu persyaratan-persyaratan tersebut sangatlah merepotkan. Akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri dari lomba tersebut. Ya memang nasib saya, untuk tetap menulis di blog, walaupun harus tanpa ada yang baca sekalipun....

Gambar diambil dari sini http://mikroskoppenulis.blogspot.com/2010_05_01_archive.html lewat pencarian Google Gambar

Tanpa tempat dan tanggal
Sasongko Adjie

Mencium Hajar Aswad Tanpa Harus Menyakiti

Ka'bah di Masjid Al Haram

Adalah impian seluruh muslim di dunia agar bisa pergi ke tanah haram, Makkah Al Mukarramah, untuk menjalankan ibadah haji atau umrah. Dan ketika menjalankan thawaf atau ibadah-ibadah lain di Masjid Al Haram, menjadi kepuasan tersendiri apabila dapat mencium atau menyentuh Hajar Aswad.

Walaupun menyentuh/mencium Hajar Aswad adalah sunnah, banyak muslim yang membela-belain untuk dapat melakukannya. Tak jarang pertengkaran, dorong-dorongan, bahkan gontok-gontokan terjadi di tempat suci tersebut. Sungguh ironi, apabila seorang muslim mengutamakan perbuatan sunnah dibandingkan mencegah kemungkaran (hal yang haram), dalam hal ini menyakiti sesama muslim.

Bagi anda yang baru datang ke Baitullah dan sangat ingin mencium Hajar Aswad, usahakan untuk menyelesaikan umrah terlebih dahulu, sehingga ibadah utama tujuan pergi ke Baitullah terselesaikan. Ada waktu tertentu dimana polisi masjid (Askar) membuat antrian bagi orang-orang (laki-laki) yang hendak mencium Hajar Aswad,  yaitu sebelum adzan sholat Ashar. Jadi datanglah ke Masjid Al Haram sekitar setengah jam sebelum adzan sholat Ashar dan mendekatlah di area Hajar Aswad. Setelah antrian terbentuk dengan baik, biasanya Askar akan menghalau jamaah yang berada di sekitar Hajar Aswad dan mulai mempersilakan antrian untuk mencium/menyentuh Hajar Aswad. Dengan begini, maka saling menyakiti sesama muslim bisa dihindari dan mendapat sunnah dari Rasulullah saw.

Antrian Hajar Aswad


Tapi perlu diingat bahwa Hajar Aswad tidak bisa membawa fadhilah apa-apa bagi kita, seperti kata Amirul Mukminin Umar ibn Al Khattab, "Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau (hajar aswad) tidak dapat mendatangkan bahaya, tidak juga manfa’at. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu". Mencium Hajar Aswad adalah merupakan ittiba' (mengikuti perbuatan Rasullullah). Kalau bukan kita sebagai umat Muslim yang menghidupkan sunnah Rasulullah, lalu siapa lagi..??

Umrah Keluarga - Februari 2012

Foto-foto di atas adalah koleksi pribadi

Doha, 08 May 2012
Sasongko Adjie

Monday, April 23, 2012

Kuliah/Kursus Online dan "Gratis"

Jangan membiarkan otak berhenti berpikir. Ibarat pisau, kalau ingin selalu tajam dan berfungsi baik, otakpun perlu diasah. Walaupun untuk orang sudah terlalu kebanyakan pikiran sekalipun, bisa masalah pekerjaan, family, bisnis, dll, nampaknya perlu mempelajari hal-hal yang baru. Apapun yang dipelajari, selama itu hal yang positif, insya Allah bakal berguna.

Buat yang sibuk dengan aktivitasnya dan tidak sempat belajar secara tradisional dari kelas ke kelas, online learning adalah suatu solusi yang menarik. Cukup dengan komputer/laptop yang terhubung dengan internet, kita sudah dapat mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan. Kapanpun, dimanapun, sesibuk apapun, mari kita luangkan waktu untuk belajar.

Bukankah segala macam artikel ilmu pengetahuan sudah gampang kita dapatkan di internet? Cukup googling kan. Tapi berbeda dengan kursus atau kuliah online, sistem pembelajaran mereka terstruktur. Materinya sudah didesain untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan bidang-bidang tertentu. Sehingga bagi kita, internet user, tujuan belajar sudah terfokus dan tersusun dengan rapi. Dan satu hal lagi, kita akan mendapatkan sertifikat sebagai bukti dari kesuksesan proses belajar kita. Bagi saya, sertifikat adalah efek samping atau nilai tambah, bukan berarti tidak penting, tapi proses belajarnya lah yang paling penting.

Beberapa kuliah/kursus online dan "gratis" ini yang akan saya review menurut subyektivitas saya sendiri. Kata gratis saya beri tanda petik karena sebenarnya tidak ada yang benar-benar gratis, "there ain't such things as free lunch", hehe. Tapi setidaknya fee-nya affordable, ada juga yang men-charge untuk sertifikat saja, sedang materi kursusnya gratis. Semua kuliah/kursus yang saya sebutkan disampaikan dalam bahasa Inggris.

1. Islamic Online University

Bagi yang berminat belajar Islam secara online tapi komprehensif, disinilah tempatnya. Disampaikan dalam bahasa Inggris, kurikulumnya mengacu pada Universitas Madinah dan Al Azhar - Mesir. IOU menawarkan program Bachelor of Art (S1 = 8 semester) dan beberapa program Diploma dengan fokus pada bab-bab tertentu, misalnya Aqidah, Fiqih Puasa, Fiqih Zakat. Untuk program diploma, IOU bekerjasama dengan Fanar Institute - Qatar, sedangkan untuk program BA, IOU terakreditasi oleh lembaga Islam Phillipines dan bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Saat ini IOU memiliki mahasiswa lebih dari 50 ribu dan tersebar di lebih dari 200 negara. Beaya administrasinya berjenjang, disesuaikan dari negara tinggal mahasiswanya, mulai dari 40 - 120 US$ per semester. Note: Untuk Indonesia = 60 US$ = 225 QAR.

2. University of the People

UoP adalah universitas online berbasis di Pasadena, California - US. IOU saat ini menawarkan 4 program study, Associate degree dan Bachelor degree of Business Administration serta Associate degree dan Bachelor degree of Computer Science. Walaupun UoP belum terakreditasi (menurut mereka masih dalam proses), dari hasil googling, tidak ada tanda-tanda scam dari Universitas ini. Proses belajar dan ujian semua dijalankan secara online, dan mahasiswanya dibagi menjadi beberapa kelas sehingga pemebelajaran menjadi lebih efektif.

Beaya admintrasi dan ujian juga berjenjang seperti IOU, antara 10 US$ sampai 100 US$, bergantung negara tinggal mahasiswanya.

3. ALISON

ALISON adalah lembaga penyedia kursus online dan gratis dari Ireland. Ada 400 lebih kursus yang tersedia, dari berbagai subyek seperti manajemen, komputer, bahasa, dan kesehatan. Alison juga menawarkan program Diploma untuk bidang studi tertentu. Semua materi dapat diakses gratis, dengan waktu belajar rata-rata 2-3 jam per materi. Hanya saja untuk mendapatkan sertifikat perlu bayar antara 20 - 100 Euro.

4. Master Class Management

Hampir sama dengan ALISON, tapi MCM hanya fokus di bidang manajemen. Materi dapat diakses free, tapi untuk dapat sertifikat bayar sekitar 50 US$.

5. E-learning Centre

Yang tertarik dengan IT dan ilmu komputer, dapat masuk ke website ini. Mereka menawarkan beberapa kursus gratis, seperti Javascript, Excel, HTML.

Selain yang saya sebutkan di atas, ada lagi penyedia kursus online dan gratis namun mereka tidak memberikan sertifikat, misalnya MIT Open Courseware dan lain-lain (bisa langsung googling). Toh ga ada salahnya bagi kita untuk belajar ilmu-ilmu baru walaupun tanpa mendapatkan sertifikat (asal jangan ilmu sihir, hehe). Daripada waktu terbuang untuk hal-hal yang sia-sia, mendingan dipakai untuk belajar....

Semoga bermanfaat...

Doha, 25 April 2012
Sasongko Adjie

Saturday, April 21, 2012

Redefine The Personal Goals

Berawal dari pertemuan saya dengan seorang Trainer dan Master Hypnotherapi, Mr. Bassem Al Attar, saya jadi tergugah untuk kembali menulis. Pada awalnya beliau memberikan presentasi tentang "How to achieve company goals", sebuah pelatihan tentang manajemen perusahaan yang sebetulnya topiknya kurang saya sukai. Mungkin karena sudah habitat saya sebagai kuli pabrik, sehingga hal-hal tentang manajerial kurang bisa masuk di otak saya.

Di tengah-tengah session, beliau sedikit menceritakan tentang personal goals (tujuan-tujuan pribadi). Bahasannya membuat mata saya yang sudah agak terkantuk-kantuk, menjadi melek kembali. Apa yang beliau sampaikan sebetulnya sudah saya sering dengar sebelumnya saat kuliah dan awal-awal bekerja dahulu. Karena dulu saya sering mengikuti program semacam Achievement Motivation Training, dsb. Tapi seolah-olah terlupakan begitu saja setelah saya berada di comfort zone. Apabila sudah 3 tahun bekerja di Qatar, dengan segala sesuatunya yang tercukupi (alhamdulillah...).

Maka dari itu, judul dari postingan pertama dari blog baru saya ini adalah Meredefinisikan Tujuan-Tujuan (hidup) Pribadi. Sebuah judul yang menggugah, dan semoga sekaligus menjadi momentum kembalinya ide-ide cemerlang dari otak saya untuk dituliskan. Sesuatu yang hilang dari hidup saya selama beberapa tahun belakangan ini.

Perlu dibedakan antara Tujuan (goal) dan harapan (hope). Tujuan adalah cara (how) untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Sedangkan harapan adalah apa (what) yang kita inginkan. Misalnya: kita sekedar ingin punya rumah mewah, ini adalah harapan. Sedangkan disebutkan tujuan, apabila kita membuat statement yang jelas, seperti: Saya ingin punya rumah seharga dua ratus juta, dengan cara menabung 5 juta per bulan selama 40 bulan (3 tahun) dimulai dari bulan ini.

Sebuah tujuan (hidup) yang baik mempunyai beberapa kriteria. Orang manajemen biasa menyingkatnya dengan akronim SMART. Specific, Measurable (terukur), Achievable (dapat tercapai), Rewarding (menjadi penghargaan bagi diri) dan Time bound (batasan waktu).  Contoh yang saya sebutkan sebelumnya, walaupun kelihatan simpel, tapi memenuhi lima unsur SMART itu.

Mr. Bassem Al Attar membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu: Physical goal, Intellectual goal, Financial goal, Family goal, Spiritual and Community goal dan yang terakhir adalah Career goal.

1. Physical Goal
Sejauh mana kita mencintai diri kita sendiri. Inginkah kita hidup sehat, panjang umur, jarang sakit. Jadi tetapkan goal anda, seberapa sering anda akan berolahraga atau bagaimana mengatur menu makanan yang sehat.

2. Intellectual Goal
Ada sebuah quote yang sangat saya sukai, "Brain can't stop thinking. If we don't fill it with positive things, it will be occupied by negative ones". So, mulailah dengan belajar sesuatu. Bisa mulai belajar bahasa baru, melanjutkan kuliah, ambil kursus gratisan di internet.

3. Financial Goal
Ada tiga tingkatan seseorang dalam hal keuangan: In Debt --> Saving --> Investing. Dimanakah posisi anda? Apapun posisi anda sekarang, mulailah memikirkan cara untuk "naik kelas" ke tingkatan yang lebih tinggi. Set waktu kapan hutang bisa dilunasi, kapan mulai menabung untuk keperluan masa depan, dsb.

4. Family Goal
Buat anda yang belum menikah, kapan mau menikah. Buat anda yang sudah punya momongan, buatlah rencana yang terbaik untuk buah hati anda. Dimana mereka akan bersekolah, dsb. Sisihkan waktu untuk bermain bersama anak-anak dan mendengarkan curhatnya.

5. Spiritual and Community Goal
Kapan anda ingin berhaji? Mulailah direncanakan dari sekarang. Tujuan (hidup) yang satu ini bisa juga digabung dengan family goal. Misalnya coba bawa anak-anak anda ke Panti Asuhan untuk bermain-main bersama anak-anak yatim piatu.

6. Career Goal
Berkaitan dengan pekerjaan anda, sampai kapankah anda bekerja di perusahaan anda sekarang, jabatan apakah yang anda inginkah.

Well, postingan ini sebetulnya saya tulis untuk mengingatkan diri saya sendiri. Saya memang merasa bahwa selama ini tujuan hidup yang saya set sebelumnya karena satu hal, zona kenyamanan.  Comfort zone memang virus yang nyaman, pelan-pelan kita menikmati sampai lama-lama jadi kebal. Jadi teringat kata-kata dari sahabat saya Muh. Assad dalam bukunya Notes_From_Qatar, "no growth in comfort zone, no comfort in growth zone".

Bersama Muh. Assad (penulis buku Notes From Qatar)


Kelihatannya klise ya... tapi tetap saya selalu berusaha menjalankan yang terbaik, setidaknya bagi saya dan keluarga saya.

Doha, 21 April 2012 at 01:23 am
Sasongko Adjie   

P/S: Profil Bassem Al Attar bisa didapatkan di laman ini.