Di era globalisasi ini, informasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seseorang. Berita, baik dari media cetak (yang sudah mulai tergusur) dan dari media elektronik, seakan membanjiri hidup kita setiap harinya. Tanpa terasa kitapun menjadi korban "kecanduan" informasi, yang tidak bisa hidup tanpa informasi sedetikpun.
Lihat saja berita TV belakangan ini, kasus politik, korupsi, sampai perdukunan, bahkan hal-hal yang sepele diangkat menjadi berita. Saya berpikir apa tidak ada berita lain yang lebih membangun masyarakat ke arah yang lebih positif. Jaman Pak Harto dulu ada berita kelompencapir, yang banyak mengupas kesuksesan pertanian dan pembangunan (walaupun semu) sehingga khalayak lebih berpikir positif untuk bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya.
Internet, hal yang dapat mengkoneksikan kita dengan siapa saja dan dimana saja, sudah ada dalam genggaman. Cukup dengan HP murahan, kita bisa browsing apa saja. Bangun tidur kelewat ga nonton bola, tinggal buka internet, udah muncul skornya. Facebook dan twitter bisa menghubungkan kita dengan kawan lama, serta mengetahui apa yang sedang dia, atau presidenpun, yang sedang kerjakan.
Belum lagi di bidang ekonomi, harga-harga barang bisa naik turun karena informasi yang belum pasti kebenarannya. Sedikit saja isu terpercik, semua orang terpengaruh. Beberapa minggu lalu, harga emas yang biasanya bergerak naik dengan lambat, tiba-tiba anjlok gara-gara isu-isu tertentu.
Berkaitan dengan "kebanjiran" informasi itu, kadang saya merindukan hidup di desa yang tidak ada listrik, TV ataupun sinyal HP. Sepertinya damaiiii gitu. Asal bisa makan dengan hasil bumi yang ada, bisa cukup membuat kenyang tanpa harus memikirkan inflasi. Dan bisa tidur pulas sampai bangun pagi esoknya, tanpa harus memikirkan utang...
Thursday, May 2, 2013
Wednesday, March 13, 2013
Harits, welcome to real world...
Kelahiran Harits memberikan banyak arti bagi keluarga kami. Semenjak hamil istri saya, kami banyak mengalami beberapa momen penting, terutama kepindahan keluarga kami ke tanah air tercinta. Ditambah lagi pekerjaan saya yang baru menuntut saya untuk sering meninggalkan keluarga. Sehingga praktis waktu saya menjadi lebih kurang untuk mendampingi istri saya yang sedang hamil.
Hari-hari menjelang kelahiran, saya masih mendapat tugas dari kantor untuk menjalani training di Bogor. Sampai dua hari menjelang kelahiran, barulah saya bisa pulang ke Jogja. Lalu dua hari setelah kelahiran, lagi-lagi saya harus meninggalkan keluarga ke Balikpapan selama seminggu. Setelah itu barulah saya bisa berkumpul bersama.
Pengalaman kami selama melahirkan Harits di JIH (Jogja International Hospital) cukup memuaskan. Walaupun awalnya sempat masuk ke Kelas 2 karena keterbatasan kamar, keesokkan harinya kami mendapatkan single room, sehingga privasi bisa terjaga. Terlebih lagi bantuan dokter SOG, dokter anak, dan para bidan/perawat yang sangat ramah dan friendly, sehingga kami (terutama istri saya) merasa nyaman di sana. Dan Alhamdulillah, kakek-nenek pun bisa berkumpul menemani dan mendoakan kelancaran kelahiran Harits.
Sekali lagi, kami sangat berterimakasih pada pihak-pihak yang sangat membantu kelahiran anak kami, baik dari pihak keluarga, tetangga maupun dari RS. Semoga Allah yang membalas kebaikan anda semua.
Saturday, January 12, 2013
Sunday, December 23, 2012
Jalan-Jalan ke Tenggarong
Pada bulan Oktober yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Tenggarong, ibu kota Kutai Kertanegara. Dalam perjalanan yang singkat (hanya sekitar 2 jam), saya dan teman-teman muter-muter kota sambil berwisata kuliner, dan juga mengunjungi Museum Mulawarman. Ada website yang bagus untuk menunjukkan bagian dalam museum disini .
Kutai sendiri sejarahnya adalah kerajaan hindu yang tertua di nusantara. Namun lama kelamaan, kerajaan tersebut beralih menjadi Kesultanan Islam. Beberapa pusaka dan benda-benda peninggalan sejarah Kesultanan Kutai, dipajang di museum ini.
Di tempat lain, saya mengunjungi (reruntuhan) Jembatan Kutai Kertanegara. Awalnya jembatan gantung ini mirip Golden Gate Brigde di San Fransisco. But tragically, jembatan itu rubuh tahun lalu dan menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit.
Dengan terputusnya transportasi akibat rubuhnya jembatan yang membelah sungai Mahakam ini, muncullah mode transportasi baru yang disebut "klotok" yang menghubungkan daerah seberang sungai. Sebuah perahu mini ferry, yang menyeberangkan 3-4 buah mobil sekali jalan. Nah, di tengah-tengah sungai Mahakam, terdapat pulau kecil bernama Pulau Kumala. Di pulau ini dibuat sebuah arena wisata yang menarik, lengkap dengan menara pandang. Sayangnya saya tidak kesana karena keterbatasan waktu.
Disambung lain waktu lagi....
![]() |
| Museum Mulawarman tampak depan |
![]() |
| Halaman depan Museum |
Kutai sendiri sejarahnya adalah kerajaan hindu yang tertua di nusantara. Namun lama kelamaan, kerajaan tersebut beralih menjadi Kesultanan Islam. Beberapa pusaka dan benda-benda peninggalan sejarah Kesultanan Kutai, dipajang di museum ini.
![]() |
| Koleksi pusaka kerajaan |
![]() |
| Patung Lembuswana, simbol Kerajaan Kutai |
![]() |
| Koleksi Samurai |
![]() |
| Koleksi Keris |
![]() |
| Diorama penambangan emas tradisional |
![]() |
| Koleksi guci dan tembikar |
![]() |
| Wayang dan gamelan juga ada |
Di tempat lain, saya mengunjungi (reruntuhan) Jembatan Kutai Kertanegara. Awalnya jembatan gantung ini mirip Golden Gate Brigde di San Fransisco. But tragically, jembatan itu rubuh tahun lalu dan menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit.
![]() |
| Reruntuhan Jembatan Kutai Kartanegara |
![]() |
| Pulau Kumala di tengah Sungai Mahakam |
Disambung lain waktu lagi....
Saturday, December 22, 2012
Menempuh "hidup baru"
Jangan salah sangka dulu, saya tidak kawin lagi...
Kami sekeluarga telah memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia. Memang berat rasanya harus meninggalkan Qatar, dengan segala kenyamanannya. Dan kami harus memulai hidup baru di Indonesia, dengan suasana dan paradigma baru.
Walaupun sebetulnya rencana resignation saya dari pekerjaan di Qatar sudah saya pikirkan dari awal tahun 2012, namun sampai bulan Mei, belum ada satupun CV saya yang nyantol. Sampai pada suatu saat ketika saya mendapat tawaran dari kakak kelas saya di D3 Tekim Undip, bahwa salah satu koleganya di sebuah perusahaan oil & gas, membutuhkan operator yang mempunyai pengalaman dengan gas turbin. Awalnya saya kurang pede, karena saya sendiri belum memiliki pengalaman itu. Tapi berbekal tekad dan semangat untuk mewujudkan resolusi 2012, akhirnya saya melamar pekerjaan itu dan berharap dapat panggilan wawancara.
Akhirnya beberapa hari kemudian, saya mendapat email dari agen perusahaan tersebut. Dalam email tersebut disebutkan kapan saya harus interview dan sekaligus offering dari mereka. Saya sendiri merasa kaget, karena biasanya perusahaan memberikan offer gaji setelah deal dalam interview. Setelah diskusi tentang jadwal interview via email dan telepon, akhirnya disepakatilah pada suatu hari di bulan Juni.
Singkat waktu, setelah wawancara selesai, mereka setuju untuk meng-hire saya. Hanya saja, saya meminta notice period 2 bulan untuk menyelesaikan proses pengunduran diri dari employer saya di Qatar. Sebuah proses yang lama dan butuh perjuangan yang cukup berat karena ternyata untuk resign-pun saya harus menjalani prosedur yang sangat ribet. Cukuplah bagi saya untuk merenungi pepatah "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian".
Tanggal 12 September 2012 pukul 8 malam, kami sekeluarga meninggalkan Qatar. Dengan diantar Nissan Pathfinder sahabat saya SBA ke airport, saya merasakan perasaan yang belum penah saya rasakan sebelumnya. Senang sekaligus sedih. Senang karena cita-cita saya untuk kembali ke tanah air, akhirnya terwujud. Sedih karena harus meninggalkan kenangan yang banyak tergores di Qatar, bersama teman dan kerabat (terutama IndOryx Family).
Bahkan saya tidak berani menoleh ke belakang....
Beberapa foto ini saya ambil pada hari-hari terakhir saya di Qatar
Foto-foto yang lain menyusul...
Updated on 12 January 2013
Kami sekeluarga telah memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia. Memang berat rasanya harus meninggalkan Qatar, dengan segala kenyamanannya. Dan kami harus memulai hidup baru di Indonesia, dengan suasana dan paradigma baru.
Walaupun sebetulnya rencana resignation saya dari pekerjaan di Qatar sudah saya pikirkan dari awal tahun 2012, namun sampai bulan Mei, belum ada satupun CV saya yang nyantol. Sampai pada suatu saat ketika saya mendapat tawaran dari kakak kelas saya di D3 Tekim Undip, bahwa salah satu koleganya di sebuah perusahaan oil & gas, membutuhkan operator yang mempunyai pengalaman dengan gas turbin. Awalnya saya kurang pede, karena saya sendiri belum memiliki pengalaman itu. Tapi berbekal tekad dan semangat untuk mewujudkan resolusi 2012, akhirnya saya melamar pekerjaan itu dan berharap dapat panggilan wawancara.
Akhirnya beberapa hari kemudian, saya mendapat email dari agen perusahaan tersebut. Dalam email tersebut disebutkan kapan saya harus interview dan sekaligus offering dari mereka. Saya sendiri merasa kaget, karena biasanya perusahaan memberikan offer gaji setelah deal dalam interview. Setelah diskusi tentang jadwal interview via email dan telepon, akhirnya disepakatilah pada suatu hari di bulan Juni.
Singkat waktu, setelah wawancara selesai, mereka setuju untuk meng-hire saya. Hanya saja, saya meminta notice period 2 bulan untuk menyelesaikan proses pengunduran diri dari employer saya di Qatar. Sebuah proses yang lama dan butuh perjuangan yang cukup berat karena ternyata untuk resign-pun saya harus menjalani prosedur yang sangat ribet. Cukuplah bagi saya untuk merenungi pepatah "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian".
Tanggal 12 September 2012 pukul 8 malam, kami sekeluarga meninggalkan Qatar. Dengan diantar Nissan Pathfinder sahabat saya SBA ke airport, saya merasakan perasaan yang belum penah saya rasakan sebelumnya. Senang sekaligus sedih. Senang karena cita-cita saya untuk kembali ke tanah air, akhirnya terwujud. Sedih karena harus meninggalkan kenangan yang banyak tergores di Qatar, bersama teman dan kerabat (terutama IndOryx Family).
Bahkan saya tidak berani menoleh ke belakang....
Beberapa foto ini saya ambil pada hari-hari terakhir saya di Qatar
![]() |
| Teman satu grup di perusahaan lama saya, multinationality |
![]() |
| Istri saya bersama sahabat-sahabatnya |
Foto-foto yang lain menyusul...
Updated on 12 January 2013
| bersama teman2, Pak SBA, Pras, dan pak Acep |
| bersama Mas Rendra Al Jazeera |
| bersama gurunda tercinta, Ust. Sudirman dan Ust. Amir Hasan |
| istri dan teman-temannya |
Sunday, September 9, 2012
Qatar Memories
![]() |
| The Gate at Al Rumailla Park |
![]() |
| Sea Line - Mesaieed |
![]() |
| Amphiteatre at Katara |
![]() |
| Masjid Sh. Muhammad ibn Abdul Wahhab |
![]() |
| MIA park with West Bay background |
![]() |
| Museum of Islamic Art |
![]() |
| Film City, in the middle of desert |
Monday, August 20, 2012
Selamat Idul Fitri 1433H
| Image: Sh. Imam Mohammad bin Abdul Wahhab Mosque (Masjid Jami' Daulah) - Doha, Qatar |
Saya dan keluarga turut mengucapkan:
Selamat Idul Fitri 1433H
Taqabbalallahu minna wa minkum, wa shiyamana wa shiyamakum
Wa ja'alnallahu min al-aidin wa al-faizin
Kullu amm wa antum bikhoir
"Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan dan kekhilafan,..."
Subscribe to:
Posts (Atom)




















