Wednesday, March 13, 2013

Harits, welcome to real world...



Alhamdulillah telah lahir anak ke-3 kami pada tanggal 4 Maret di JIH, laki-laki, dengan berat 3,5 kg dan panjang 48 cm. Anak kami yang ketiga ini kami beri nama Harits Abdul Aziz.

Kelahiran Harits memberikan banyak arti bagi keluarga kami. Semenjak hamil istri saya, kami banyak mengalami beberapa momen penting, terutama kepindahan keluarga kami ke tanah air tercinta. Ditambah lagi pekerjaan saya yang baru menuntut saya untuk sering meninggalkan keluarga. Sehingga praktis waktu saya menjadi lebih kurang untuk mendampingi istri saya yang sedang hamil.

Hari-hari menjelang kelahiran, saya masih mendapat tugas dari kantor untuk menjalani training di Bogor. Sampai dua hari menjelang kelahiran, barulah saya bisa pulang ke Jogja. Lalu dua hari setelah kelahiran, lagi-lagi saya harus meninggalkan keluarga ke Balikpapan selama seminggu. Setelah itu barulah saya bisa berkumpul bersama.

Pengalaman kami selama melahirkan Harits di JIH (Jogja International Hospital) cukup memuaskan. Walaupun awalnya sempat masuk ke Kelas 2 karena keterbatasan kamar, keesokkan harinya kami mendapatkan single room, sehingga privasi bisa terjaga. Terlebih lagi bantuan dokter SOG, dokter anak, dan para bidan/perawat yang sangat ramah dan friendly, sehingga kami (terutama istri saya) merasa nyaman di sana. Dan Alhamdulillah, kakek-nenek pun bisa berkumpul menemani dan mendoakan kelancaran kelahiran Harits.

Sekali lagi, kami sangat berterimakasih pada pihak-pihak yang sangat membantu kelahiran anak kami, baik dari pihak keluarga, tetangga maupun dari RS. Semoga Allah yang membalas kebaikan anda semua.

Sunday, December 23, 2012

Jalan-Jalan ke Tenggarong

Pada bulan Oktober yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Tenggarong, ibu kota Kutai Kertanegara. Dalam perjalanan yang singkat (hanya sekitar 2 jam), saya dan teman-teman muter-muter kota sambil berwisata kuliner, dan juga mengunjungi Museum Mulawarman. Ada website yang bagus untuk menunjukkan bagian dalam museum disini .

Museum Mulawarman tampak depan

Halaman depan Museum

Kutai sendiri sejarahnya adalah kerajaan hindu yang tertua di nusantara. Namun lama kelamaan, kerajaan tersebut beralih menjadi Kesultanan Islam. Beberapa pusaka dan benda-benda peninggalan sejarah Kesultanan Kutai, dipajang di museum ini.

Koleksi pusaka kerajaan
Patung Lembuswana, simbol Kerajaan Kutai

Koleksi Samurai

Koleksi Keris

Diorama penambangan emas tradisional

Koleksi guci dan tembikar

Wayang dan gamelan juga ada

Di tempat lain, saya mengunjungi (reruntuhan) Jembatan Kutai Kertanegara. Awalnya jembatan gantung ini mirip Golden Gate Brigde di San Fransisco. But tragically, jembatan itu rubuh tahun lalu dan menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit.

Reruntuhan Jembatan Kutai Kartanegara

Pulau Kumala di tengah Sungai Mahakam
Dengan terputusnya transportasi akibat rubuhnya jembatan yang membelah sungai Mahakam ini, muncullah mode transportasi baru yang disebut "klotok" yang menghubungkan daerah seberang sungai. Sebuah perahu mini ferry, yang menyeberangkan 3-4 buah mobil sekali jalan. Nah, di tengah-tengah sungai Mahakam, terdapat pulau kecil bernama Pulau Kumala. Di pulau ini dibuat sebuah arena wisata yang menarik, lengkap dengan menara pandang. Sayangnya saya tidak kesana karena keterbatasan waktu.

Disambung lain waktu lagi....

Saturday, December 22, 2012

Menempuh "hidup baru"

Jangan salah sangka dulu, saya tidak kawin lagi...

Kami sekeluarga telah memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia. Memang berat rasanya harus meninggalkan Qatar, dengan segala kenyamanannya. Dan kami harus memulai hidup baru di Indonesia, dengan suasana dan paradigma baru.

Walaupun sebetulnya rencana resignation saya dari pekerjaan di Qatar sudah saya pikirkan dari awal tahun 2012, namun sampai bulan Mei, belum ada satupun CV saya yang nyantol. Sampai pada suatu saat ketika saya mendapat tawaran dari kakak kelas saya di D3 Tekim Undip, bahwa salah satu koleganya di sebuah perusahaan oil & gas, membutuhkan operator yang mempunyai pengalaman dengan gas turbin. Awalnya saya kurang pede, karena saya sendiri belum memiliki pengalaman itu. Tapi berbekal tekad dan semangat untuk mewujudkan resolusi 2012, akhirnya saya melamar pekerjaan itu dan berharap dapat panggilan wawancara.

Akhirnya beberapa hari kemudian, saya mendapat email dari agen perusahaan tersebut. Dalam email tersebut disebutkan kapan saya harus interview dan sekaligus offering dari mereka. Saya sendiri merasa kaget, karena biasanya perusahaan memberikan offer gaji setelah deal dalam interview. Setelah diskusi tentang jadwal interview via email dan telepon, akhirnya disepakatilah pada suatu hari di bulan Juni.

Singkat waktu, setelah wawancara selesai, mereka setuju untuk meng-hire saya. Hanya saja, saya meminta notice period 2 bulan untuk menyelesaikan proses pengunduran diri dari employer saya di Qatar. Sebuah proses yang lama dan butuh perjuangan yang cukup berat karena ternyata untuk resign-pun saya harus menjalani prosedur yang sangat ribet. Cukuplah bagi saya untuk merenungi pepatah "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian".

Tanggal 12 September 2012 pukul 8 malam, kami sekeluarga meninggalkan Qatar. Dengan diantar Nissan Pathfinder sahabat saya SBA ke airport, saya merasakan perasaan yang belum penah saya rasakan sebelumnya. Senang sekaligus sedih. Senang karena cita-cita saya untuk kembali ke tanah air, akhirnya terwujud. Sedih karena harus meninggalkan kenangan yang banyak tergores di Qatar, bersama teman dan kerabat (terutama IndOryx Family).

Bahkan saya tidak berani menoleh ke belakang....

Beberapa foto ini saya ambil pada hari-hari terakhir saya di Qatar

Teman satu grup di perusahaan lama saya, multinationality

Istri saya bersama sahabat-sahabatnya

Foto-foto yang lain menyusul...

Updated on 12 January 2013

bersama teman2, Pak SBA, Pras, dan pak Acep

bersama Mas Rendra Al Jazeera

bersama gurunda tercinta, Ust. Sudirman dan Ust. Amir Hasan

istri dan teman-temannya

Sunday, September 9, 2012

Qatar Memories

The Gate at Al Rumailla Park
Sea Line - Mesaieed

Amphiteatre at Katara

Masjid Sh. Muhammad ibn Abdul Wahhab

MIA park with West Bay background

Museum of Islamic Art

Film City, in the middle of desert

Monday, August 20, 2012

Selamat Idul Fitri 1433H

Image: Sh. Imam Mohammad bin Abdul Wahhab Mosque (Masjid Jami' Daulah) - Doha, Qatar


Saya dan keluarga turut mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1433H
Taqabbalallahu minna wa minkum, wa shiyamana wa shiyamakum
Wa ja'alnallahu min al-aidin wa al-faizin
Kullu amm wa antum bikhoir

"Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan dan kekhilafan,..."

Tuesday, May 8, 2012

Mendikte Gaya Penulisan Seseorang



Sebagai seseorang yang bukan berlatar belakang pendidikan sastra, saya tidak tahu menahu tentang bab tulis-menulis. Bagi saya, menulis itu mengalir begitu saja seperti air sungai yang mengalir terus menerus mencari titik terendah. Terlebih ketika jaman SMA, satu-satunya mata pelajaran yang pernah dapat nilai enam di raport adalah Bahasa Indonesia. Boleh dibilang malu-maluin (apalagi pelajaran Bahasa Inggris-nya dapat nilai sembilan) tapi apalah hendak dikata, memang belajar bahasa dan sastra itu memang sulit.

Beberapa bulan yang lain, di sebuah mailing list yang saya ikuti, terdapat lomba menulis. Pada awalnya saya tertarik dan saya sempat mendaftar ke panitianya. Saya berpikir, toh temanya juga gampang yaitu pengalaman berada di negeri orang. Setelah mendaftar, barulah saya membaca persyaratan perlombaannya. Ternyata syaratnya sangat sulit. Bukan hanya persyaratan teknis, seperti misalnya tulisan harus berapa halaman, font berapa, margin berapa, tapi juga persyaratan non teknis yang berkaitan dengan gaya penulisan.

Yang saya maksud dengan persyaratan gaya penulisan adalah panitia meminta tulisan yang diikutkan perlombaan tersebut haruslah tulisan yang bermajas-majas, meletup-letup, kalau ada sedihnya ya harus ditulis sesedih-sedihnya (sehingga pembacanya ikut mbrebes mili), kalau ada semangatnya harus menggambarkan semangat juang 45. Sehingga terkesan panitia mendikte gaya penulisan untuk diikutsertakan dalam lomba menulis itu.

Buat saya yang terbiasa menulis ala Blogging seperti ini tentu persyaratan-persyaratan tersebut sangatlah merepotkan. Akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri dari lomba tersebut. Ya memang nasib saya, untuk tetap menulis di blog, walaupun harus tanpa ada yang baca sekalipun....

Gambar diambil dari sini http://mikroskoppenulis.blogspot.com/2010_05_01_archive.html lewat pencarian Google Gambar

Tanpa tempat dan tanggal
Sasongko Adjie