Friday, August 1, 2014

Berlebaran di Offshore

Sebuah tanggapan dari artikel ini dan itu.

Saya tertarik untuk membaca dua artikel di atas, karena merasa senasib. Yaitu dapat jatah berlebaran di offshore platform / anjungan lepas pantai. Berlebaran memang suatu momen yang sangat dinantikan. Waktu berkumpul bersama keluarga, kesempatan bertemu teman-teman sepermainan di masa kecil yang pada mudik, aneka masakan dan makanan khas buatan ibu, menjadikan momen lebaran menjadi begitu spesial. Namun apalah daya, karena tuntutan profesi maka saya harus berlebaran ketika sedang menjalankan tugas (yang saya sebut) sebagai pengawal kemandirian energi nasional (national energy independence custodian

Sholat Ied di atas helideck
Sebetulnya secara mental, saya sudah siap berlebaran di offshore sejak beberapa bulan yang lalu. Karena jadwal kerja sudah diissue sehingga semua pekerja sudah tau grup mana yang akan mendapatkan "jackpot" untuk berlebaran di offshore. Keluarga sudah paham dan terkondisikan bahwa saya akan berangkat kerja 3 hari sebelum Idul Fitri, sehingga saya sudah mudik sebelum arus mudik pantura ramai.
Yang spesial dari Idul Fitri tahun ini, manajemen perusahaan mendatangkan ustadz dari Hidayatullah Dakwah Center, Balikpapan. Dan karena beliau berangkat bareng saya, maka saya diserahi tugas untuk meng-guide beliau di Airport, sampai berangkat ke platform menggunakan helicopter.
Pada malam takbiran, walaupun belum ada pengumuman sidang itsbat dari pemerintah, nada-nadanya 1 Syawal 1435H akan masuk pada hari Senin, 28 Agustus 2014. Kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya di helideck, mulai dari karpet, sound system, dsb. Suasana takbiran mengharu biru, syahdu dan khusuk, walaupun hanya bertahan satu jam saja, dikarenakan angin Selat Makassar yang mengganas.


Khutbah Ied

Paginya, sudah direncanakan bahwa kondisi plant fakultatif, alias tidak ada pekerjaan yang major. Cukup sekedar menjaga produksi gas alam sesuai target / nominasi. Setelah matahari sepenggalah naik, satu demi satu para muslimin berkumpul di helideck untuk melaksanakan sholat Ied. Bahkan teman-teman non-muslim turut membantu mengabadikan dokumentasi momen istimewa ini. Setelah sholat Ied dan khutbahnya selesai, dilanjutkan dengan makan kupat opor sambel goreng bersama, lengkap dengan nastar dan kacang metenya.


Yang terakhir, dengan setulus hati ( walaupun terkesan normatif ) saya haturkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435H. Taqobalallahu minna wa minkun, wa ja'alnallohu minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan dan kekhilafan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan kita mampu mempertahankan semangat ibadah Ramadhan di bulan-bulan berikutnya.

Ruby, 01 Agustus 2014

Monday, May 6, 2013

Menikmati Keindahan Teluk Balikpapan

Balikpapan Bay
 Suatu waktu saya berkesempatan mengunjungi dan "muter-muter" kota Balikpapan. Dan akhirnya driver kami memilihkan suatu tempat yang cocok untuk menikmati keindahan teluk Balikpapan sekaligus matahari sorenya.

Tepatnya di pantai Monumen Perjuangan Rakyat Kaltim (Jl. Sudirman, Balikpapan), saya dan teman-teman singgah sebentar, sambil memesan kudapan mie ayam dan es kelapa muda serta ditemani oleh sepoi-sepoi lembut angin laut.



Untuk ukuran public space di Indonesia, tempat ini relatif bersih. Pantainya bisa buat untuk mandi dan berenang. Ada toilet dan kamar mandi yang (sekali lagi) relatif bersih. Selain pantai, ada juga Monumen yang dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Kaltim melawan penjajahan. Bisa dibilang berekreasi sambil wisata sejarah.

Monumen Perjuangan Rakyat Kaltim

Taman Bermain Monpera
Selain kawasan pantai yang berpasir putih, ada pula kawasan berumput yang bisa digunakan untuk bermain anak-anak. Dilengkapi dengan mini panggung yang langsung menghadap ke laut luas.


Selain Monpera, masih banyak tempat wisata lain di Balikpapan yang bisa dieksplor. Saya sudah sempat mengunjungi pantai Manggar, pantai Lamaru, Penangkaran buaya Teritip, Penangkaran beruang madu, dan tempat beli cinderamata "Kebun Sayur".


"The world is a book and those who do not travel read only the cover"

Saturday, May 4, 2013

Terdampar di Kalimantan




Kisah hidup saya menuliskan bahwa saya harus "terdampar" di suatu pulau dimana saya dilahirkan.

Saya meninggalkan pulau ini dua tahun setelah saya dilahirkan ke dunia untuk mengikuti pekerjaan orang tua saya ke tanah impian, Jawa. Sehingga sampai saat ini di setiap biodata saya, selalu tertulis "Tapin" sebagai tempat lahir saya dan mayoritas kawan-kawan saya tidak dapat menunjukkan dimana Tapin berada di peta (atau mungkin baru pertama kali mendengarnya).

 Kabupaten Tapin berada di provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 2 jam perjalanan dari Banjarmasin. Di sana nenek dan beberapa paman saya masih tinggal. Ibu saya, yang memang asli sana, selalu menyempatkan setidaknya setahun sekali untuk menengok nenek. Terakhir kali saya ke sana (tahun 2010) banyak hal yang membuat saya tercengang. Terjadi kesenjangan sosial yang cukup lebar antara si kaya dan si miskin. Itu tidak lain karena banyak OKB (Orang Kaya Baru) yang mendapat berkah dari "harta" di bawah bumi, apalagi kalau bukan batubara.

Dan kini saya terdampar di sisi lain dari pulau Kalimantan, yaitu Handil. Berada di sekitar 2 jam timur laut Balikpapan. Kota kecil yang dihidupi oleh industri, terutama oleh Total E&P Indonesie. Namun, saya tidak bekerja di Total. Hanya saja platform (tempat kerja) saya dibangun di sini, di pinggir pantai di belakang kompleks Total berada.

Hanya sekitar 10 bulan saya berada di Handil. Karena selanjutnya saya akan bekerja di Offshore, tepatnya di Selat Sebuku, dekat Kotabaru - Kalsel. Jadwal pekerjaan 14/14 (14 hari masuk kerja/14 hari libur) itu yang menjadi pertimbangan saya memilih pekerjaan ini. Sehingga walaupun saya bekerja, saya mempunyai waktu luang bersama keluarga, walaupun tidak setiap hari.

Kedepannya, saya masih punya banyak impian. Namun dalam jangka pendek, mungkin saya akan memilih untuk tinggal di Indonesia terlebih dahulu. Dapat mendampingi orang tua yang sebelumnya saya tinggal lama sewaktu saya berada di Qatar. Istri saya juga masih punya obsesi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan saya juga masih belajar untuk mengembangkan suatu usaha/bisnis, yang saat ini masih belum ada satu idepun dalam pikiran saya (tapi saya yakin itu akan ada)...

"Build your own dreams, or someone else will hire you to build theirs". 
 

Friday, May 3, 2013

Susahnya Merubah Mental Karyawan (Lewat Buku)

Saat ini saya sedang mencoba mengkhatamkan beberapa buku yang sudah "kadung" terbeli. Habiskan Saja Gajimu oleh Ahmad Ghozali, Cashflow Quadrant (english version) oleh Robert Kiyosaki, 10 Jurus terlarang oleh Ippho Santosa, Status Karyawan Sukses Jadi Juragan oleh Amir Hamzah. Semua buku tersebut berkenaan dengan pengelolaan keuangan dan bisnis.

Buku yang pertama, Habiskan Saja Gajimu oleh Ahmad Ghozali, saya lahap duluan karena bukunya relatif tipis. Disamping itu saya sendiri mengagumi Pak Ahmad Ghozali yang selama ini dikenal sebagai financial advisor spesialis syariah. Bukunya simple dan mudah dipahami. Pada intinya, gaji memang harus dihabiskan, bukan disisakan (untuk ditabung). Bagaimana kita mengelola gaji dan menghabiskannya berdasarkan prioritas. Prioritas pertama adalah pengeluaran sosial (zakat & infaq), kemudian membayar utang, lalu menabung, terus sisanya boleh dihabiskan (konsumsi). Bagi saya hal itu make sense...


Buku yang sekarang sedang saya baca adalah Cashflow Quadrant (english version) oleh Robert Kiyosaki. Bisa dibilang buku ini adalah sekuel dari buku best seller, Rich Dad Poor Dad. Mirip-mirip dengan buku "kakak"nya itu (yang sudah saya punya dari jaman kuliah), buku Cashflow Quadrant ini menjelaskan tentang tipe-tipe orang dalam memahami uang, apakah dia seorang Employee, Self-Employee, Bussiness Owner atau Investor. Pada intinya buku ini mempengaruhi pembaca agar mulai berani berpindah kuadran, dari kuadran kiri (E atau S), ke kuadran kanan (B atau S). Yang membuat saya pusing, bahwa buku ini mengajarkan hal-hal yang menurut saya tidak lazim, yang maksudnya merubah mental karyawan menjadi mental pengusaha. Buku ini mengajarkan kita menjadi kapitalis, memanfaatkan duit orang lain untuk menambah pundi-pundi kekayaan kita (secara legal). Memang dari perspektif bisnis itu bagus, tapi hati kecil saya koq masih belum bisa menerimanya.

Sedangkan dua buku yang lain, yaitu 10 Jurus terlarang oleh Ippho Santosa, Status Karyawan Sukses Jadi Juragan oleh Amir Hamzah, belum sempat saya baca. Tapi saya sudah bisa menebak bahwa buku Ippho yang satu ini ga jauh-jauh dari buku 7 Keajaiban Rezeki yang sudah saya punya sebelumnya. Gaya Ippho hampir mirip dengan Kiyosaki atau Tung Desem Waringin, bahwa berbisnis harusnya menggunakan cara yang tidak biasa. Namun bedanya, Ippho membawakannya dengan menyisipkan ajaran dan norma Islam di dalamnya. Bagi saya, Ippho belum gila-gila banget...

Sedangkan buku Amir Hamzah, sekilas sih masuk akal. Saya scanning dengan cepat, di dalam buku ini banyak diajarkan cara-cara konkret untuk menjalankan bisnis tanpa mengganggu status kita sebagai karyawan. Amir Hamzah sendiri sekarang sukses menjadi juragan buah-buahan saat masih menjadi karyawan BUMN. Sepertinya buku ini cocok buat saya....

Thursday, May 2, 2013

Kebanjiran Informasi...

Di era globalisasi ini, informasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seseorang. Berita, baik dari media cetak (yang sudah mulai tergusur) dan dari media elektronik, seakan membanjiri hidup kita setiap harinya. Tanpa terasa kitapun menjadi korban "kecanduan" informasi, yang tidak bisa hidup tanpa informasi sedetikpun.

Lihat saja berita TV belakangan ini, kasus politik, korupsi, sampai perdukunan, bahkan hal-hal yang sepele diangkat menjadi berita. Saya berpikir apa tidak ada berita lain yang lebih membangun masyarakat ke arah yang lebih positif. Jaman Pak Harto dulu ada berita kelompencapir, yang banyak mengupas kesuksesan pertanian dan pembangunan (walaupun semu) sehingga khalayak lebih berpikir positif untuk bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya.

Internet, hal yang dapat mengkoneksikan kita dengan siapa saja dan dimana saja, sudah ada dalam genggaman. Cukup dengan HP murahan, kita bisa browsing apa saja. Bangun tidur kelewat ga nonton bola, tinggal buka internet, udah muncul skornya. Facebook dan twitter bisa menghubungkan kita dengan kawan lama, serta mengetahui apa yang sedang dia, atau presidenpun, yang sedang kerjakan.

Belum lagi di bidang ekonomi, harga-harga barang bisa naik turun karena informasi yang belum pasti kebenarannya. Sedikit saja isu terpercik, semua orang terpengaruh. Beberapa minggu lalu, harga emas yang biasanya bergerak naik dengan lambat, tiba-tiba anjlok gara-gara isu-isu tertentu.

Berkaitan dengan "kebanjiran" informasi itu, kadang saya merindukan hidup di desa yang tidak ada listrik, TV ataupun sinyal HP. Sepertinya damaiiii gitu. Asal bisa makan dengan hasil bumi yang ada, bisa cukup membuat kenyang tanpa harus memikirkan inflasi. Dan bisa tidur pulas sampai bangun pagi esoknya, tanpa harus memikirkan utang...

Wednesday, March 13, 2013

Harits, welcome to real world...



Alhamdulillah telah lahir anak ke-3 kami pada tanggal 4 Maret di JIH, laki-laki, dengan berat 3,5 kg dan panjang 48 cm. Anak kami yang ketiga ini kami beri nama Harits Abdul Aziz.

Kelahiran Harits memberikan banyak arti bagi keluarga kami. Semenjak hamil istri saya, kami banyak mengalami beberapa momen penting, terutama kepindahan keluarga kami ke tanah air tercinta. Ditambah lagi pekerjaan saya yang baru menuntut saya untuk sering meninggalkan keluarga. Sehingga praktis waktu saya menjadi lebih kurang untuk mendampingi istri saya yang sedang hamil.

Hari-hari menjelang kelahiran, saya masih mendapat tugas dari kantor untuk menjalani training di Bogor. Sampai dua hari menjelang kelahiran, barulah saya bisa pulang ke Jogja. Lalu dua hari setelah kelahiran, lagi-lagi saya harus meninggalkan keluarga ke Balikpapan selama seminggu. Setelah itu barulah saya bisa berkumpul bersama.

Pengalaman kami selama melahirkan Harits di JIH (Jogja International Hospital) cukup memuaskan. Walaupun awalnya sempat masuk ke Kelas 2 karena keterbatasan kamar, keesokkan harinya kami mendapatkan single room, sehingga privasi bisa terjaga. Terlebih lagi bantuan dokter SOG, dokter anak, dan para bidan/perawat yang sangat ramah dan friendly, sehingga kami (terutama istri saya) merasa nyaman di sana. Dan Alhamdulillah, kakek-nenek pun bisa berkumpul menemani dan mendoakan kelancaran kelahiran Harits.

Sekali lagi, kami sangat berterimakasih pada pihak-pihak yang sangat membantu kelahiran anak kami, baik dari pihak keluarga, tetangga maupun dari RS. Semoga Allah yang membalas kebaikan anda semua.